Saturday, September 06, 2014

Zat kimia yang mengganggu kerja tiroid

Here’s the latest article on some chemicals that may react as toxins and affect thyroid function. The chemicals are perchlorates (found in fireworks, tap water), polychlorinated biphenyls (industrial chemicals), dioxins, phytoestrogens (in soy proteins), pesticides, polybrominated diphenyl ethers (found in furniture wadding foam and carpet padding), plastics materials like bisphenol A and phthalates, perfluorooctanoic acid (used to make Teflon, food wrappers), fluoride and chloride, mercury, lead, aluminium, triclosan.

Waduh, banyak banget zat kimia berbahaya utk tiroid. Kalau harus menghindari semua, lah ya repot juga. 

Yg gue paling khawatir itu penelitian yg nunjukin bahwa bayi yg diberi susu formula berbasis soya punya tingkat TSH yg lebih tinggi dibanding bayi yg tak diberi susu soya. What? Anakku sejak bayi hingga usia 7 tahun selalu minum susu formula berbahan soya soalnya dia alergi susu sapi. Yaaa berdoa aja deh anakku tetap sehat.

Friday, September 05, 2014

September: Thyroid Cancer Awareness Month

September is Thyroid Cancer Awareness Month. Did you know that Thyca is often referred to as the "good cancer?" 

Well, there is no such thing as a "good cancer". Thyca is not "the good kind of cancer to have" just because it has high survival rates. It is still a cancer that requires treatment. 

Just like its cousins hypothyroid and hyperthyroid, Thyca can be quite tricky because it often does not cause any symptoms, and when it does the obvious symptoms may be easily mistaken for something totally different.

I found essential information on what and how thyroid gland works here. 

Also found the following illustrations on Pinterest. One listing the common symptoms Thyca shares with hypo and hyper:



The other giving us a heads up on what to expect when dealing with Thyca: 




Do a thyroid neck check. If your thyroid isn't working properly, neither are you. 



Thursday, July 25, 2013

Berita kesehatan tentang tiroid

Detik.com hari ini menurunkan sebuah artikel konsultasi kesehatan mengenai gangguan tiroid. Terus terang saya sangat terkesan dengan jawaban yang disampaikan oleh dr Dito Anugoro dari Brain and Circulation Institute of Indonesia, Surya University, dalam artikel ini.

Menurut saya, ini adalah salah satu penjelasan yang detil, lengkap dan gamblang mengenai penyakit tiroid dalam bahasa Indonesia yang saya pernah temui.

Pasti banyak pasien yang terbantu dengan adanya artikel semacam ini. Salute.

Monday, July 22, 2013

'Diskriminasi' terhadap pengidap kanker

Maaf sebelumnya, tapi kali ini saya sedang ingin ngedumel di blog.

Kanker tiroid selama ini dianggap banyak dokter dan ilmuwan sebagai jenis kanker yang paling sederhana, mudah diobati, dan tidak berbahaya. Ada betulnya memang -sejauh si pasien dan dokter tidak meremehkan gejala dan tidak menunda mengambil tindakan.

Tapi, yang namanya kanker ya tetap kanker! Nggak ada kanker enak, atau kanker baik!

Sesederhananya pola sebuah kanker, sebagus-bagusnya prognosis, setinggi-tingginya tingkat kesembuhah, tetep aja nggak ada enak-enaknya jadi pasien kanker.  {Iya, saya mengerti, harus tetap bersyukur kondisi kita tidak separah pasien kanker tipe lain}

Nah, selain 'diremehkan', pasien kanker tipe gancil seperti tiroid -sama saja seperti pasien kanker tipe ganas dan sulit-  juga mendapat 'diskriminasi' atau perlakuan 'tidak menyenangkan' sebagai konsekuensi menjadi "penderita kanker" dari pihak-pihak tertentu, khususnya perusahaan asuransi dan otoritas kesehatan/imigrasi negara asing.


Oke lah, saya bisa mengerti kenapa perusahaan asuransi hanya mau memberi perlindungan dengan cakupan yang sempit dan nilai pertanggungan yang kecil. Business is business, yeah I got it.

Saya juga bisa paham kenapa pemerintah negara asing, khususnya mereka yang memiliki sistem jaminan kesehatan dan sosial yang baik, butuh waktu ekstra luaaama untuk menimbang dan memutuskan apakah akan memberikan, atau tidak memberikan, visa tinggal jangka panjang bagi seorang thyroid cancer survivor. Taxpayers' money should not be spent on treating visitors.

Tapi, tetep saya nggak suka dengan perlakukan 'diskriminatif' seperti itu! Sekian.

Radiasi penyebab kanker tiroid?

Apa sih penyebab kanker tiroid? Pertanyaan itu dahulu saya tanyakan ke dokter saya. Pertanyaan yang sama diajukan pada saya oleh keluarga dan teman saat tahu saya didiagnosa dengan kanker tiroid.

Dokter saya, seperti kebanyakan dokter yang sama baca di internet, bilang: belum ada penelitian yang secara tegas menunjukkan suatu hal tertentu sebagai penyebab kanker tiroid. Tapi beberapa hal dicurigai berperan mencetuskan kanker tiroid, dan beberapa jenis kanker lainnya, yaitu radiasi.

Nah, masih ingat berita2 koran menyusul tragedi tsunami yang meluluhlantakkan Jepang pada Maret 2011 lalu? Tsunami saat itu tidak saja meratakan rumah dan bangunan, tetapi juga merusak reaktor nuklir di Fukushima.

Ketika berita bocornya reaktor Fukushima mencuat, banyak orang mulai mengkhawatirkan dampak radiasi terhadap kesehatan manusia, baik yang tinggal di dekat reaktor maupun yang tinggal jauh dari Jepang. Di beberapa bagian negara Amerika Serikat, misalnya, sebagian masyakarat lokal sempat menghindari mengkonsumsi produk laut dari Jepang karena khawatir produk laut tersebut sudah terpapar radiasi.

Perkembangan terbaru dari lokasi reaktor nuklir Fukushima, yang dikutip oleh SHnews.co, menunjukkan bahwa otoritas kesehatan yang memantau kesehatan para pekerja, khususnya mereka yang bertugas membersihkan sisa-sisa kebocoran reaktor, memperkirakan sekitar 10% dari hampir 2,000 pekerja reaktor tersebut dikhawatirkan akan menderita kanker tiroid akibat paparan radiasi selama membersihkan reaktor bocor itu.

Saya pribadi percaya radiasi yang terpancar dari alat2 kesehatan dapat menyumbang pada timbulnya kanker tiroid. Tapi sejauh mana dan apakah radiasi merupakan faktor tunggal, atau harus disertai dengan kondisi yang sudah ada pada seseorang, penyebab kanker tiroid? Mari kita cari tahu dengan lebih banyak membaca :D

Monday, July 23, 2012

Mencari dokter endokrin


Pasti banyak diantara kita yang pernah/sedang bertanya-tanya: Siapa ya dokter endokrin yang bagus, dan praktek dimana?

Biasanya rekomendasi dari sesama pasien lain, termasuk komentar/cerita orang yang kita temui di internet, menjadi pertimbangan pertama untuk memilih dokter.  Namun, pencarian di internet kadang kurang lancar karena kita tak punya data awal, alias nama dokter yang ingin di'periksa'.

Nah, salah satu cara untuk mendapat info awal tentang nama2 dokter yang bisa kita crosscheck lebih lanjut adalah dengan mengunjungi situs PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia http://www.perkeni.org)  Pada sub-menu "Pengurus", kita bisa lihat nama2 dokter pengurus asosiasi baik di tingkat pusat maupun daerah. Nah, nama2 itu bisa kita periksa lebih lanjut di internet untuk bisa tahu profil, tempat praktek dan siapa tahu ada komentar/pengalaman dari pasien.

Situs lain yang juga memuat nama2 dokter yang bisa jadi pilihan adalah situs Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM-FKUI (http://www.internafkui.or.id). Pada menu "Divisi" terdapat nama2 dokter utk berbagai bidang kedokteran, termasuk metabolik-endokrin. Bagian ini juga memberikan informasi tentang layanan kesehatan untuk klinik2 spesialis di RSCM.









Monday, April 02, 2012

Kenali pil hormon tiroid anda

Saya tahu bahwa pil synthetic thyroid hormone diproduksi oleh produsen2 yg berbeda dan dipasarkan dengan merek dagang yg beda2 pula.

Yang saya kurang ngeh adalah pil2 tersebut diserap secara berbeda oleh tubuh karena proses pembuatan yang beda satu sama lain.

Saya baru tahu bahwa seharusnya dokter mengingatkan pasien kanker tiroid untuk tidak berganti-ganti merek karena alasan di atas tadi. Dan bahwa idealnya pasien yg berganti merek pil sebaiknya menjalani tes darah tiroid selama 6-8 minggu pertama setelah pergantian merek untuk memastikan pil yang baru terserap dengan baik dan tidak mempengaruhi kadar TSH.

Untuk keterangan lebih lanjut tentang pil pengganti hormon tiroid silakan baca situs ThyCa.

Sunday, April 01, 2012

Operasi Tiroid pada Orang Tua Lebih Berisiko

Orang tua yang yang menjalani operasi tiroid menurut penelitian terbaru, lebih berisiko mengalami sakit serius pada jantung, paru-paru, dan komplikasi yang berhubungan dengan infeksi, daripada pasien muda.

Temuan ini menantang keyakinan yang selama ini muncul bahwa operasi tiroid (thyroidectomy) adalah operasi berisiko rendah bagi pasien berusia tua.

Para peneliti menganalisa data dari 7915 pasien di Amerika Serikat yang pernah menjalani seluruh atau sebagian operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Risiko komplikasi sesudah operasi lima kali lebih tinggi pada pasien berusia 80 tahun ke atas, dan dua kali lebih tinggi pada pasien berusia 65 hingga 79 tahun, dibanding pasien muda.

Penelitian ini muncul di edisi Mei Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism.

Selengkapnya lihat BeritaSatu.com 31 Maret 2012

Wednesday, December 14, 2011

Perempuan lebih berisiko mengalami gangguan tiroid

Artikel baru di Kompas.com ini penting untuk dibaca. Perempuan berisiko 5-7 kali lebih besar mengalami gangguan kelenjar tiroid - yang merupakan produsen hormon tiroid - dibandingkan laki-laki.

Kelenjar tiroid berfungsi menyerap iodine yang ditemukan dalam makanan untuk diolah menjadi hormon tiroid. Hormon tiroid berperan penting terutama dalam pengaturan suhu tubuh, pergerakan usus, denyut jantung dan kekuatan otot. Hormon tiroid juga mempengaruhi metabolisme protein, lemat, karbohidrat dan vitamin dalam tubuh.

Segera periksakan diri Anda bila mengalami gejala-gejala seperti terlalu mudah lelah dan selalu mengantuk, berat badan naik tidak normal, keringat berlebihan, atau ada benjolan di leher.

Friday, September 16, 2011

Tes TSH

Ya ampun! Pantas aja, badan ini tiga bulan terakhir serasa remuk redam, lekas lelah, lekas mengantuk, tak bersemangat, tak bertenaga dan ujung2nya sering stress (gimana gak stress kalo kerjaan banyak yg terbengkalai)! Lha wong hasil tes darah TSH abnormal.

Nilai normal TSH (yg dianut RS tempat saya ambil tes) antara 0.27 - 4.20 iu/ml. Sedangkan nilai TSH saya 132.80! Heh.

Dosis pil hormon tiroid saya tiga bulan terakhir setengah tablet. Emang terlalu kecil sih dibanding dosis sebelumnya (satu setengah tablet) sudah saya lakoni bertahun-tahun sebelum pindah ke RS dan dokter baru. Ayo lah, dokter, naikkan dosis ke semula, biar badan, dan hidupku, kembali normal :D

Wednesday, September 14, 2011

Informasi awal ttg kanker tiroid

Untuk teman-teman yang mencari informasi awal tentang kanker tiroid, sila tengok situs milik American Thyroid Association, khususnya pada bagian brosur yang menyajikan keterangan tentang gejala/sebab/diagonsa/jenis/langkah penanganan/follow-up/prognosis kanker tiroid. Semoga berguna.

Thursday, September 08, 2011

Treatments, follow-ups for thyroid cancer

Information on treatments and follow-ups for thyroid cancer I found on the internet are mostly for adult patients. Only few address child patients, among them is this article I found on the Thyroid Cancer Survivors' Association's website. Generally, the steps of treatments and follow-ups outlined in the article are quite similar to that for adult patients, so we too can learn a few things from the information.

Friday, August 19, 2011

Beda Dokter, Beda Cara

First off, just need to tell the world (don't worry, world, you're not required to respond) that I've just passed the five-year grace period last October without any recurrent symptoms (well, not that I know of...).

Awal tahun ini (atau akhir tahun lalu ya?) saya akhirnya memutuskan berganti dokter dan RS. Bukan karena gak cocok lagi atau bosan dengan dokter selama bertahun-tahun menangani saya. Tapi simply karena faktor jarak aja. Dan juga krn merasa lumayan cocok dengan dokter yang di RS dekat rumah ini.

Kalau dulu dokter yg menangani saya adalah spesialis bedah, kali ini spesialis endokrin. Beda dokter, beda juga cara penanganannya. Dulu, saat pertama datang ke dokter bedah tsb utk minta second opinion on what to do with those messy thyroid glands, dia memulai jawaban dengan kalimat: "Karena saya dokter bedah, maka saya sarankan..." Heheheh ternyata ada benarnya komentar beliau tentang beda dokter endokrin dengan dokter bedah (yang punya jam terbang tinggi membedah pasien kanker kiriman dokter endokrin) bahwa dokter bedah itu macam practical problem shooter, sedangkan dokter endokrin cenderung menangani masalah bak seniman.

Bukan masalah sih, sebetulnya. Hanya ada beberapa perbedaan cara penanganan yg kadang bikin saya bertanya2. Misalnya, saya sempat kaget saat dokter saya yang baru ini 'mengomeli' saya dengan halus ketika tahu saya tidak minum pil thyrax selama sebulan lebih sebelum melakukan tes darah. "Gimana sih, berhenti minum pil hormonnya sampai sebulan itu kan membahayakan diri sendiri. Emang siapa sih yg ngajarin begitu?" Saya jelaskan dokter saya sebelumnya selalu minta saya berhenti minum pil selama 2 minggu sebelum tes darah tiroid. Tapi, saya akhirnya lebih sering off-medication selama 3-4 minggu mengikuti saran dokter unit nuklir, yang mengatakan 2 minggu gak cukup untuk mendapatkan kadar Tsh/Tg yang asli untuk keperluan tes. Memang, kalau sedang off-medication, kondisi badan jadi gak karuan, apalagi kalau dalam jangka waktu yang lama.

Dokter saya yang baru meminta saya untuk kembali menjalani tes rutin T2/T3/T4/Tsh/Tg dua bulanan. Alasanya untuk mencari dosis yang tepat. Hadeeehh... Saking rutin ke RS, pegawai2 cafe RS sampe 'kangen' kalau saya tak datang2 :D. Masalahnya, cash flow jadi terganggu :(

Lucunya, dulu saya harus berhenti minum pil thyrax bila hendak tes darah, sekarang justru disuruh tetap minum pil. Saya sempat bertanya2 sendiri, bagaimana bisa dapat dosis yang tepat kalau tes dilakukan atas darah yang kondisinya 'terbantu' oleh pil hormon. Tapi gue gak berani nanya heheheh. Jadi, paling2 riset di internet utk cari tau sendiri.

Nah, tes dua bulan yang lalu juga bikin kaget. Angka Tg-nya diatas normal. Maka lagi2 gue diinterogasi si dokter: "kamu minum obatnya bener gak sih? rutin gak? sesuai dosis gak?" Tentu aja saya menjawab dengan manis: "tentu dong, dok". Padahal sih gak sesuai dosis. Duh, bandel bener sih pasiennya! Lha, habisnya dia kasis dosis 2.5 butir! Waks... Lha kok kembali ke masa paska operasi lagi toh? Seminggu pertama dosis ini gue ikutin, dan hasilnya badan jadi gak keruan. Akhirnya si sok tau ini menurunkan sendiri dosisnya ke 1.5 butir. Gue rasa dosis 1.5 yang diresepkan dokter terdahulu works just fine with my current loads deh.

Akhirnya si dokter memberi dosis baru: 0.5 butir per hari. Jauh bener dari 2.5 ke 0.5 heheheh. Entah karena pengaruh dosis, atau hal lain, nafsu makan jadi menggila, dan berat badan ya pastinya naik dong. Dan, sudah mulai 'takut air' alias mudah kedinginan. Yah, kita lihat saja nanti hasil tes darah berikut setelah Lebaran.



Thursday, June 24, 2010

Kanker tiroid sekarang, kanker payudara 20 thn kemudian?

Membaca artikel berikut membuat saya terhenyak. Masa iya sih, penderita kanker tiroid yang sudah menjalankan ablasi punya risiko tinggi mengidap kanker payudara di kemudian hari? Tapi, begitulah menurut penelitian yang dilakukan hampir sepuluh tahun lalu itu.

Kalau begitu, saya memang harus rajin tes mamo nih. Pertama kali saya ambil tes mamo, dan sayangnya yang terakhir kali :), adalah 2 atau 3 tahun lalu. Kalau tak salah satu tahun lebih setelah saya menjalani ablasi. Syukurlah hasilnya bersih. Teman2 perempuan, apalagi yang sudah tidak muda lagi, yuk kita rajin2 memeriksakan payudara ke dokter. In the meantime, saya akan cari info penelitan serupa yang lebih baru, siapa tahu temuannya mematahkan hasil penelitian tahun 2001 ini.

Penderita Kanker Tiroid, Cenderung Idap Kanker Payudara

Health News Tue, 31 Jul 2001 08:28:00 WIB

pdpersi, Jakarta - "Bak makan buah simalakama", bagi wanita penderita kanker tiroid, upaya penyembuhan penyakitnya memang sangat penting. Namun di sisi lain, terapi kanker tiroid ini kerap mengundang kanker lain yang tak kalah ganasnya. Kanker payudara!

Menurut Dr Amy Y Chen dan koleganya di University of Texas MD Anderson Cancer Center para wanita yang menjalani perawatan kanker tiroid kemungkinan besar mengalami peningkatan risiko mengidap kanker payudara hingga 20 tahun kemudian.

Walaupun alasannya belum jelas, diduga, salah satu terapi tumor tiroid yaitu perawatan yodium radioaktif (RAI) memberi sumbangsih pada perkembangan kanker payudara.

"Asupan yodium radioaktif, walaupun rendah, mungkin mempengaruhi daya tangkal jaringan payudara pra-menopause dari perkembangan sel kanker," jelas Dr Chen.

Masalahnya, menurut peneliti senior dalam proyek tersebut, Dr Rena Vassilopoulou Sellin, RAI tetap merupakan sebuah terapi penting dan efektif bagi kanker tiroid.

"Kami tidak menyarankan agar terapi ini dihapuskan atau diganti, kami hanya menyarankan agar kemungkinan efek tunda yang digambarkan dalam makalah ini dipertimbangkan. Terutama saat memutuskan bagaimana harus menggunakan RAI dalam rencana perawatan pasien," ujarnya.

Penelitian mereka menyebutkan, wanita yang mengidap kanker tiroid memiliki risiko 18% lebih besar mengidap kanker payudara. Sementara para wanita kulit putih pra-menopause, kemungkinannya 42% lebih besar.

Uniknya, para wanita pengidap kanker payudara ternyata tidak mengalami peningkatan risiko untuk mengidap kanker tiroid. Sementara, para wanita kulit hitam yang mengidap kanker tiroid tidak berisiko mengidap kanker payudara.

Penemuan ini berdasarkan data dari hampir 300 ribu kasus kanker payudara dan lebih dari 23 ribu kasus kanker tiroid yang dilaporkan ke National Cancer Institute's Surveillance, Epidemiology and End Result (SEER), dari tahun 1973 hingga 1994.

Dari kasus-kasus tersebut, 612 wanita mendapat diagnosa kanker tiroid sekaligus kanker payudara. Para peneliti sendiri menyertakan 365 wanita dalam penelitian tersebut.*



Radiografi gigi picu kanker tiroid?

Sinar X pada Gigi Picu Kanker Tiroid
Astrid Puspasari - Liputan6.com 05/06/2010

Liputan6.com, London: Paparan sinar X pada gigi yang dilakukan secara berulang, ternyata dapat meningkatkan risiko kanker tiroid. Menurut penelitian yang dilakukan baru-baru ini, kelenjar tiroid di leher sensitif terhadap radiasi pengion, terutama pada anak-anak. Namun potensi risiko yang ditimbulkan radiografi gigi ini sering diabaikan.

Dalam penelitian yang dilakukan pada 313 pasien kanker, para ilmuwan dari Brighton, Cambridge, dan Kuwait menemukan kemungkinan penyakit kanker meningkat seiring dengan seringnya gigi yang terkena sinar-X. Mereka menyimpulkan, pemaparan sinar X pada gigi hanya boleh diresepkan untuk memenuhi kebutuhan klinis tertentu, dan bukan merupakan bagian dari suatu check up rutin. Dr. Memon--ketua penelitian--juga menyarankan dosis rendah sinar X pada orang dewasa mungkin yang mungkin dapat membantu. Selain dapat meningkatkan risiko kanker tiroid, sinar X pada gigi juga dapat memicu risiko tumor otak dan kelenjar ludah.(Telegraph/ARI)

Thursday, March 18, 2010

Risiko terpapar radiaktif dari pasien paska I-131

Sebuah artikel di USA Today edisi hari ini mengingatkan rumah sakit, pasien kanker tiroid dan keluarga mereka terhadap risiko terpapar radioaktif dari pasien yang baru saja menjalani proses radiasi iodine (I-131 atau ablasi).

Saya jadi ingat, petugas kedokteran nuklir di RS tempat saya menjalani perawatan memang meminta saya membaca aturan berkenaan proses interaksi dengan keluarga dan masyarakat umum selepas ablasi.

Aturan itu mengatakan RS baru akan memulangkan saya (dari ruang isolasi tempat radiasi) bila kadar iodine aktif di tubuh saya sudah turun menyentuh batas aman. Saya lupa berapa tepatnya, kalau tidak salah saya sudah membahas ini di posting terdahulu. Saya baru dipulangkan pada hari ke 5 atau 6, kalau tak salah ingat.

Ketika tiba di rumah, saya menempati kamar yg berjauhan dengan kamar2 tidur lain, tidak bergabung dengan keluarga, apalagi menemui anak (yg ketika itu baru berusia 1.5thn). Kami berkomunikasi dengan hp. Kalaupun hendak bertatap muka (itu juga hanya dengan orang dewasa), harus dari jarak minimal 3-4 meter. Tadinya sih mau sewa kamar hotel atau kos, tapi sayang uang :) Alhasil, aku seperti musuhan aja dengan anggota keluarga lain, karena aku hanya keluar kamar (utk ke toilet atau ruang makan) jika mereka sedang berada di kamar masing2 heheh... Baru berani dekat2 dengan yg lain setelah satu setengah minggu.

Jadi, rekan2 yg hendak menjalani ablasi sebaiknya memberitahu keluarga tentang aturan2 interaksi fisik selepas dari RS untuk menghindari risiko terpapar radiasi dan juga menghindari kesalahpahaman.